Update Status via Bawanacamp

Kuda Lumping, Jaran Kepang atau Jathilan

>> 09 September 2011



Kuda lumping juga disebut jaran kepang atau jathilan adalah tarian tradisional Jawa menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tarian kuda lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Jaran Kepang merupakan bagian dari pagelaran tari reog. Meskipun tarian ini berasal dari Jawa, Indonesia, tarian ini juga diwariskan oleh kaum Jawa yang menetap di Sumatera Utara dan di beberapa daerah di luar Indonesia seperti di Malaysia.

Kuda lumping adalah seni tari yang dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau kepang. Tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan asal mula tarian ini, hanya riwayat verbal yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.




Sejarah

Konon, tari kuda lumping merupakan bentuk apresiasi dan dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda.

Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, tari kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.

Seringkali dalam pertunjukan tari kuda lumping, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, menyayat lengan dengan golok, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan lain-lain. Mungkin, atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural yang pada zaman dahulu berkembang di lingkungan Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda.

Salah satu pemain kuda lumping yang sedang kerasukan, sedang menari bergaya seperti macan.




Foto by :Sigit Setiyono
Sumber




READ MORE - Kuda Lumping, Jaran Kepang atau Jathilan

Bawana Always In My Heart

>> 08 September 2011

Bawana lagi..bawana lagi...apasih yang diobrolin sama si Sigit kalo nggak soal bawana? mana mungkin ngobrolin soal cewek.haha..

Yups. Bocah satu itu emang semangat banget kalo sama bawana. mantap dech. jadi buat adik-adik pengurus bawana yang mau 'curhat' soal bawana,saya rekomendasikan untuk mengadu sama Si Sigit dedengkot bawana angkatan 12. Apalagi kalo soal urusan makan-makan apalagi dana, Insya Alloh lancar. amin (semoga rejeki semakin lancar ya giit ($-*) )

Oh ya, critanya beberapa waktu yang lalu , sigit telpon saya ngomongin soal bawana. hemm...apakah itu?? ups maaf masih rahasia. hehe. Tapi tentunya ngobrolin untuk kebagusan bawana. Biar bawana tampil lebih apik dari zaman ke zaman. Iya dong, namanya organisasi tentu menginginkan akan terus membaik,nggak 'kotor' banyak tikus-tikus kantor (haha kayak ngomongin pejabat yang korup ajah yaa...). Dan tentunya mengharap bawana akan menjadi suatu organisasi yang bermanfaat bagi anggotanya, untuk skul tercinta SMK N1 PURWOREJO dan masyarakat umum.

Bawana dari tahun ke tahun,alhamdulillah tetap bisa menjalankan tradisinya untuk melakukan regenerasi. Mencari 'bibit-bibit' unggul untuk bersama-sama belajar menjadi mahluk sosial yang baik hati,pengertian dan nggak pelit,tahu akan hakikat penciptaannya. Menjalankan progam-progam kerja bawana yang tentu manfaat yang besar bagi para anggotanya. Ya karena bawana adalah sebuah organisasi yang mempunyai tujuan yang mulia.bukan begitu?

Untuk itu, guna melancarkan apa yang menjadi tujuan bawana,maka perlu mempersiapkan 'sesuatu' yang sangat berharga buat kejayaan bawana. Selama ini ada memang kekurangan di sana sini di tubuh bawana, yang hingga kini belum juga ketemu solusinya. Mudah-mudahan hasil dari diskusi sama sobatku itu dan menyusul sama teman-teman bawana yang lain akan menjadikan bawana tampil lebih baik lagi dari yang sekarang.

Amin...

salam
pecinta @ngecamp

Budi Seplawan (fb)
http://fordeaiz.blogspot.com

READ MORE - Bawana Always In My Heart

Apa itu REDD?

>> 31 Mei 2011


REDD, atau Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (Pengurangan emsisi dari deforestasi dan degradasi hutan) : Sebuah mekanisme untuk mengurangi emisi GRK dengan cara memberikan kompensasi kepada pihak pihak yang melakukan pencegahan deforestasi dan degradasi hutan.


Bagaimana cara kerja REDD?

Pengurangan emisi atau deforestasi yang dihindari diperhitungkan sebagai kredit. Jumlah kredit karbon yang diperoleh dalam waktu tertentu dapat dijual di pasar karbon. Sebagai alternatif, kredit yang diperoleh dapat diserahkan ke lembaga pendanaan yang dibentuk untuk menyediakan kompensasi finansial bagi negara negara peserta yang melakukan konservasi hutannya. Skema REDD memperbolehkan konservasi hutan untuk berkompetisi secara ekonomis dengan berbagai kegiatan ekonomi lainnya yang memicu deforestasi. Pemicu tersebut saat ini menyebabkan terjadinya pembalakan yang merusak dan konversi hutan untuk penggunaan lainnya, seperti padang penggembalaan ternak, lahan pertanian, dan perkebunan.



Adakah tantangan yang akan dihadapi skema REDD?

Ada empat tantangan yang dapat diidentifikasi :

• Teknologi penghitungan karbon

Untuk memberikan nilai bagi sebidang lahan berhutan yang berpotensi menyimpan karbon, kita harus dapat menghitung secara tepat berapa banyak jumlah karbon yang tersimpan. Teknologi baru seperti citra satelit dan pembuatan model computer akan memudahkan penghitungan cadangan karbon secara tepat dan cepat. Sistem yang transparan untuk melakukan penghitungan dan verifikasi pengurangan emisi saat ini sudah banyak tersedia. Pertanyaannya, terjangkau dan ekonomiskan teknologi ini?

• Pembayaran

Bagaimana cara suatu negara dapat memperoleh pembayaran dan dalam bentuk apa pembayaran itu diberikan? Siapa yang nantinya akan menerima pembayaran untuk upaya melindungi kawasan hutan tertentu : Pemerintah nasional, masyarakat lokal sekitar hutan atau perusahaan kayu? Negara donor menghendaki agar pembayaran dapat bermanfaat bagi masyarakat yang kurang mampu

• Akuntabilitas

Jika pembayaran REDD dilakukan, namun hutan tetap saja dirusak, apa yang akan terjadi? Akuntabilitas terkait dengan jaminan bahwa pembayaran karbon dapat mewujudkan perlindungan hutan berkelanjutan.

• Pendanaan

Kita dihadapkan pada beberapa pilihan. Apakah sebaiknya negara maju menyediakan dana untuk memberikan penghargaan bagi negara-negara yang dapat mengurangi emisinya dari deforestasi? Atau apakah sebaiknya pengurangan emisi ini dikaitkan dengan sistem perdagangan karbon yang berbasis pasar? Kita perlu mencari sistem pasar yang paling sesuai. Peneliti dan para pembuat kebijakan mulai menyadari bahwa skema REDD tidak akan menjadi solusi yang cocok untuk semua keadaan di setiap negara. Cara terbaik yang mungkin dilakukan dalam merancang dan menerapkan REDD secara global adalah memberikan kesempatan bagi negara-negara peserta untuk melakukannya secara paralel dengan berbagai model yang berbeda. Dengan cara ini, diharapkan akan muncul berbagai skema baru sehingga tiap negara dapat memilih model yang paling cocok dan dapat diadopsi untuk situasi dan kondisi mereka masing-masing.

Bagaimana dengan hak dan pendapat penduduk asli yang hidup dan mata pencahariannya bergantung pada hutan?

Penduduk asli dan masyarakat tradisional memainkan peran penting dalam proses ini. Diperlukan upaya yang lebih banyak lagi untuk menjamin bahwa lahan dan hak mereka terhadap sumberdaya diakui. Pejabat pemerintah, perusahaan swasta atau elite lokal dapat tergoda untuk mengambil alih pembayaran jasa karbon melalui system penilaian hutan yang baru ini dari masyarakat lokal apabila hak kepemilikan lahan masyarakat asli tidak dijamin. Perancang REDD harus sepenuhnya memperhatikan hak masyarakat di dalam dan di sekitar hutan yang sah sebelum mengambil tindakan untuk mengurangi emisi karbon berbasis hutan. Imbal balik antara pengurangan emisi karbon dan pengentasan kemiskinan mungkin diperlukan. Hak masyarakat lokal untuk memanfaatkan hutan harus diseimbangkan dengan tujuan masyarakat internasional dalam mengatasi perubahan iklim.

Apa yang menjadikan REDD masuk dalam agenda global?

Konferensi Para Pihak Konvensi Perubahan Iklim ke-13 (COP 13) di Bali pada tahun 2007 menghasilkan Rencana Aksi Bali (Bali Action Plan), sebuah rencana atau peta jalan negosiasi strategi iklim global untuk melanjutkan Protokol Kyoto. Rencana ini mengakui pentingnya hutan dalam mengatasi perubahan iklim dan besarnya potensi yang terkandung dalam REDD. Inisiatif REDD dalam mitigasi perubahan iklim dapat memberikan berbagai macam manfaat dan keuntungan lain yang menyertainya. Termasuk di dalamnya adalah manfaat untuk memberikan perlindungan bagi jasa lingkungan yang disediakan oleh hutan, meningkatkan penghidupan masyarakat sekitar hutan dan memperjelas hak kepemilikan lahan. Perjanjian Kopenhagen secara terbuka menyebutkan REDD-plus sebagai bagian dari portofolio mitigasi iklim untuk diimplementasikan di bawah perjanjian pasca Kyoto.

Apakah hasil dari negosiasi UNFCCC di Kopenhagen?

Hasilnya untuk REDD masih belum lengkap. Meskipun beberapa kemajuan sudah dibuat, namun kelemahan-kelemahan penting masih terjadi terutama mengenai kesesuaian target. Perjanjian Kopenhagen telah meneguhkan sebuah tonggak. Inilah perjanjian internasional pertama yang merekomendasikan bahwa sumber pendanaan perlu dikumpulkan untuk mendukung REDD-plus. Australia, Perancis, Jepang, Norwegia, Inggris dan Amerika Serikat telah menawarkan paket bantuan sebesar 3,5 triliun USD untuk persiapan REDD. Perjanjian tersebut juga menerangkan beberapa poin teknis yang dapat menyediakan dukungan yang dibutuhkan oleh negara-negara yang berminat untuk bergabung segera. Namun demikian, masih ada beberapa isu yang belum tuntas, termasuk referensi terhadap emisi dan usaha-usaha di tingkat subnasional. Ini merupakan isu penting bagi negara-negara yang memiliki hutan yang luas dengan tipe yang beragam yang mengalami tekanan yang berbeda-beda—seperti Indonesia dan Brazil. Isu-isu ini juga penting bagi negara-negara yang sedang mengalami pemberontakan/kekacauan dimana pemerintah tidak selalu memiliki kendali penuh atas semua lahan di negaranya. Isu lain yang juga perlu diatasi misalnya perlindungan hak-hak penduduk asli dan masyarakat lokal. Salah satu titik kelemahan terbesar adalah minimnya target, baik itu untuk pengurangan emisi maupun untuk sumber pendanaan. Kelemahan dari perjanjian ini dapat mengaburkan apa yang ingin dicapai dari kerja sama antara negara berkembang dan negara maju dalam kaitannya dengan REDD.

Sebagian orang membicarakan tentang REDD-plus. Apakah itu?

Satu tahun setelah Rencana Aksi Bali disetujui, para juru runding mengadakan pertemuan kembali di PoznaƄ, Polandia. Mereka mencapai konsensus umum bahwa kegiatan REDD sebaiknya diperluas. REDD-plus menambahkan tiga areal strategis terhadap dua hal yang telah ditetapkan sebelumnya di Bali. Kelima hal tersebut bertujuan untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan di negara negara berkembang. Dua ketetapan awal REDD adalah:

• mengurangi emisi dari deforestasi dan

• mengurangi emisi dari degradasi hutan

Beberapa strategi yang ditambahkan untuk mengurangi emisi melalui:

• peranan konservasi

• pengelolaan hutan secara lestari

• peningkatan cadangan karbon hutan

Definisi yang lebih luas ini memudahkan negara-negara lain untuk ikut berpartisipasi Banyak pihak dengan kondisi nasional yang berbeda dapat dilibatkan ke dalam kerangka yang akan datang.

Siapa yang memperoleh keuntungan dari REDD-plus?

Ketika REDD pertama kali dicanangkan di COP 13 pada tahun 2007, ide tersebut sangat diminati oleh negara-negara dengan laju deforestasi yang tinggi. Negara-negara tersebut memiliki potensi terbesar untuk secara signifikan mengurangi emisi dari hilangnya hutan dan untuk memperoleh keuntungan terbesar jika mereka dapat melakukannya.

Di bawah skema REDD-plus yang lebih luas, negara-negara yang secara efektif sudah melindungi hutannya juga dapat memperoleh keuntungan. Praktek yang diterapkan secara berkelanjutan yang dapat membantu masyarakat miskin. Contohnya perusahaan kayu yang memberikan akses kepada masyarakat lokal untuk dapat memanfaatkan hutan, juga akan diakui dan diberi penghargaan. Inisiatif penghijauan di kawasan hutan yang gundul dan terdegradasi juga akan dipertimbangkan. Jika REDD-plus dibawa ke meja perundingan, akan lebih banyak negara yang mendukung atau meratifikasi kesepakatan di masa yang akan datang. Bagaimanapun juga, REDD-plus memerlukan kerangka kerja yang lebih rumit untuk mengakomodasikan seluruh kategori dan dapat menyebabkan terjadinya biaya transaksi dan implementasi yang lebih besar.

Siapa yang mencoba untuk mengatasi tantangan teknis REDD-plus dan bagaimana caranya?

Dua inisiatif global sedang dilakukan untuk membantu negara-negara berkembang mengimplementasikan mekanisme REDD-plus di masa yang akan datang:



1. Program REDD PBB (UN-REDD), menawarkan dukungan secara ekstensif bagi negara berkembang untuk menghadapi isu deforestasi dan degradasi hutan. Program tersebut menawarkan pembangunan kapasitas, membantu merancang strategi nasional dan menguji pendekatan nasional serta perencanaan kelembagaan untuk mengawasi dan melakukan verifikasi pengurangan hilangnya hutan. UN-REDD beroperasi di sembilan negara: Bolivia, Republik Demokratik Kongo, Indonesia, Panama, Papua Nugini, Paraguay, Tanzania, Vietnam dan Zambia. Proyek percontohan sudah dimulai di beberapa kawasan hutan tropis dan akan dilakukan kajian secara khusus bagaimana praktek REDD akan berhasil dalam penerapannya.

2. Bank Dunia mengkoordinasikan inisiatif berupa Fasilitas Kemitraan Karbon Hutan (Forest Carbon Partnership Facility, FCPF). Serupa dengan UN-REDD, namun dalam skala dan partisipasi yang lebih besar. Program ini direncanakan beroperasi di 37 negara: Argentina, Bolivia, Chili, Costa Rica, Ekuatorial Guinea, El Salvador, Etiopia, Gabon, Ghana, Guatemala, Guyana, Honduras, Indonesia, Kamboja, Kamerun, Kenya, Kolombia, Liberia, Madagaskar, Meksiko, Mozambik, Nepal, Nikaragua, Panama, Papua Nugini, Paraguay, Peru, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Republik Kongo, Republik Demokratik Laos, Suriname, Tanzania, Thailand, Uganda, Vanuatu dan Vietnam.

Kedua inisiatif akan mengkoordinasikan misinya ketika diterapkan di negara yang sama dan melaksanakan pertemuan mengenai kebijakan-kebijakan mereka secara bersama-sama agar para peserta dapat saling bertukar informasi. Kedua inisiatif juga memiliki beberapa aktivitas percontohan REDD yang sedang berjalan di berbagai negara dalam rangka memberikan pemahaman tentang implementasi REDD dan menguji bagaimana REDD dapat dilaksanakan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Kemajuan dan hasil dari inisiatif tersebut akan membantu para juru runding UNFCC dalam menentukan apakah emisi CO2 yang berkaitan dengan hutan dapat dihitung dan apakah mekanisme REDD yang diusulkan dapat dilaksanakan.

Berapakah biaya REDD-plus?

Menurut Stern Review on the Economics of Climate Change, dana yang dibutuhkan untuk memotong hingga setengah emisi dari sektor hutan sampai dengan tahun 2030 dapat berkisar antara $17 milyar dan $33 milyar per tahun.

Darimana uang tersebut diperoleh?

Uang dapat secara langsung berasal dari skema pendanaan internasional atau program pemerintah nasional. Sebagian dana sudah tersedia bagi proyek percontohan REDD melalui pasar karbon secara sukarela, namun sebagian besar uang yang akan disalurkan melalui pasar atau dana baru sebagai hasil negosiasi UNFCCC belum akan tersedia dalam beberapa tahun mendatang.


Sumber : Greenpeace




READ MORE - Apa itu REDD?

Menguak Mitos "Hantu Laut"


Sebagian masyarakat pesisir meyakini bahwa penyakit kelumpuhan yang diderita para penyelam tradisional akibat diganggu oleh ”hantu laut”. Padahal, gangguan kesehatan itu sebenarnya penyakit dekompresi karena penyelaman dilakukan tidak sesuai dengan prosedur keselamatan.

Karena kurang informasi dan keterbatasan fasilitas, penyelam tradisional cenderung menggunakan alat seadanya, seperti kompresor tambal ban, untuk memasok udara saat menyelam ke dasar laut. Mereka bekerja sampai setengah hari di dalam laut untuk mengambil teripang, kerang, dan sisa barang di kapal karam. Hal itu berisiko tinggi terhadap kesehatan.


Susan H Manungkalit, dokter spesialis kelautan dari Rumah Sakit Angkatan Laut Mintohardjo, Jakarta, mengatakan, penyakit dekompresi disebabkan oleh mengembangnya secara mendadak gelembung udara dalam cairan tubuh saat penyelam naik ke permukaan air secara tiba-tiba. Ibaratnya, saat kita membuka botol air berkarbonasi, dengan tiba-tiba akan terlihat gelembung udara.

Susan menyatakan, hal itu berdasarkan hukum fisika Henry. Saat di permukaan, tekanan udara sebesar 1 atmosfer (atm) atau 760 milimeter Hg (mmHg) yang terdiri atas 20,9 persen oksigen dan 78,084 persen nitrogen. Selain itu, ada juga komponen lain dalam jumlah kecil, yaitu karbon dioksida, argon, neon, helium, kripton, xenon, hidrogen, metana, dan nitro oksida.

Ketika menyelam, setiap kedalaman 10 meter, tekanan udara bertambah 1 atm. Tekanan dari tiap gas ikut meningkat. Oksigen menjadi 0,4 atm dan nitrogen menjadi 1,6 atm. Sebagai gambaran, pada kedalaman 5 atm atau 40 meter, penyelam yang menghirup udara biasa dari tabung selam menghirup oksigen dengan tekanan parsial yang sama (1 atm) bila ia menghirup 100 persen oksigen di permukaan air.

Pada saat menyelam, volume udara yang mengecil karena tekanan air membuat gelembung udara mudah masuk ke dalam pembuluh darah.

Gelembung terperangkap

Dalam buku Pengantar Ilmu Kesehatan Penyelaman dinyatakan, oksigen yang dibutuhkan metabolisme manusia akan mudah terserap jaringan tubuh. Namun, nitrogen terlarut, yang tidak digunakan oleh tubuh, terakumulasi di pembuluh darah. Jika penyelaman berlangsung lama dan dalam, molekul udara, termasuk nitrogen, masuk ke simpul saraf.

Ketika penyelam naik ke permukaan terlalu cepat, gelembung udara yang terperangkap dalam sistem saraf tak sempat dilepaskan dan mengembang akibat tekanan berkurang mendadak, gelembung udara itu menekan saraf dan membuat bagian tubuh tidak bisa berfungsi. Hal inilah yang dianggap masyarakat pesisir sebagai penyakit hantu laut.

”Kalau molekul udara menekan medula spinalis (saraf di tengkuk) bisa menyebabkan kelumpuhan tangan dan kaki,” katanya.

Susan yang juga mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengibaratkan dekompresi seperti penyakit stroke. Bedanya, pada penyakit stroke penyumbat pembuluh darah adalah trombus (bekuan darah), sedangkan pada penyakit dekompresi penyumbatnya adalah gelembung udara (nitrogen).

Efeknya mirip, yaitu mati rasa, lumpuh, hingga kehilangan kesadaran. Adapun efek ringan dari dekompresi antara lain nyeri sendi, nyeri otot, atau gatal-gatal di kulit.

Menurut US Navy Diving Manual Revision 5, risiko terjadinya dekompresi pada orang yang menyelam selama 1 jam adalah 42 persen, pada penyelaman 3 jam 60 persen, penyelaman 8 jam risikonya 83 persen, dan penyelaman 24 jam risiko mengalami dekompresi 98 persen.

Terapi hiperbarik

Untuk mengatasi itu, penderita dekompresi harus segera dibawa ke rumah sakit dengan fasilitas hiperbarik oksigenasi, seperti di RSAL Mintohardjo. Metode pengobatan disebut selam kering. Dalam ruang hiperbarik, pasien diberi terapi tekanan tertentu selama waktu tertentu. Tujuannya melarutkan gelembung udara, kemudian tubuh diberi kesempatan melepaskan perlahan-lahan.

Susan mengatakan, korban dapat sembuh jika diterapi dalam jangka waktu kurang dari enam jam setelah kejadian. Jika lebih dari itu, jaringan yang tersumbat dikhawatirkan telah mati sehingga ada gejala sisa.

Di lapangan, jika hal ini terjadi dan penyelam masih sadar, korban dapat dibawa kembali ke kedalaman sekitar 9 meter dan diberi oksigen murni. Jika tidak tersedia oksigen murni, cukup membawa penyelam ke kedalaman semula, kemudian naik ke permukaan sesuai prosedur sehingga nitrogen yang terlarut terlepas dari tubuh.

Harijanto Mahdi, dokter spesialis Kelautan dan spesialis Telinga Hidung Tenggorokan yang juga Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Kelautan (Perdokla), menyatakan, penyakit dekompresi jarang terjadi pada penyelam profesional dan Marinir. Hal itu karena mereka diberi pendidikan keselamatan.

Penelitian Susan di Kepulauan Seribu, tahun 1995, menunjukkan, sekitar 51,8 persen nelayan penyelam setempat menderita penyakit dekompresi.

Ia menambahkan, orang yang sebelum menyelam mengonsumsi alkohol, keletihan, dan kegemukan, tergolong berisiko terkena penyakit ini. Namun dengan melakukan penyelaman yang aman dan mengikuti tabel penyelaman (dari organisasi POSSI/CMAS, PADI, ADS, atau US Navy), seperti naik perlahan-lahan, memerhatikan batas-batas kedalaman, dan durasi penyelaman, risiko terjadinya penyakit itu sangat kecil. US Navy Diving Manual mensyaratkan seorang penyelam bergerak naik maksimum dengan kecepatan 60 kaki (sekitar 18 meter) per menit.

Bawah laut bukanlah alam bagi manusia. Banyak hal bisa terjadi ketika kita tidak dapat beradaptasi. Namun dengan prinsip kehati-hatian dan kewaspadaan didukung kemajuan teknologi dan penelitian serta memerhatikan aturan penyelaman, kita dapat mengeksplorasi bawah laut dengan aman tanpa perlu takut dihinggapi hantu laut.


Sumber



READ MORE - Menguak Mitos "Hantu Laut"

Ozon Menipis Lagi, Nyaris Berlubang di Kutub Utara

>> 18 Mei 2011


Ozon terus menipis, bahkan nyaris berlubang di Kutub Utara. Penurunan temperatur stratosfer yang jadi penyebab.

Penyebab terbentuknya lubang ozon ada tiga, menurut Profesor Ross Salawitch, ahli kimia dan biokimia dari University of Maryland, yang mempelajari kandungan zat kimia di atmosfer. Ketiganya adalah sinar matahari, halogen, dan temperatur rendah.


Saat temperatur turun melebihi ambang batas, awan terbentuk di stratosfer. Halogen, khususnya polutan seperti klorin dan brom, berubah menjadi senyawa kimia yang bereaksi dengan cepat di ozon. "Semua berubah drastis," kata Salawitch.

Tahun ini, sistem angin kutub yang dikenal dengan nama "pusaran kutub" sangat tenang dan stabil. Hal itu berperan dalam menurunkan temperatur di daerah Kutub Utahttp://www.blogger.com/img/blank.gifra. Penurunan drastis ini, jika terjadi di Kutub Selatan, dipastikan bisa membentuk lubang ozon karena lapisan ozon di sana lebih tipis daripada di Kutub Utara.

Saat ini, pusaran angin sudah menghilang dan udara dari luar Kutub Utara yang lebih hangat bisa masuk dan memperbaiki lapisan ozon.

Jika ozon berlubang, semakin banyak radiasi ultraviolet yang mencapai bumi yang bisa memicu penyakit kulit. Dengan lapisan ozon yang semakin tipis saja orang berkulit sensitif akan semakin mudah terbakar sinar matahari. (Sumber: Live Science)


Sumber


READ MORE - Ozon Menipis Lagi, Nyaris Berlubang di Kutub Utara

Bawana SMK N1 Puworejo

Photobucket

Alamat Sekretariat:
Kampus SMK N1 Purworejo
Jl. Tentara Pelajar Kotak Pos 127
Email: mkipa_bawana@yahoo.co.id

Twitter Updates

  © Blogger templates Sunset by BAWANA 2009

Back to TOP